Juni 19, 2008
Kalau hal ini ditanyakan kepada saya, tidaklah sulit untuk menjawabnya. Tadi malam, sebelum saya merebahkan diri untuk tidur, saya berdoa. Pagi tadi, ketika bangun tidur, saya berdoa. Siang tadi, ketika makan bersama teman-teman sekantor, saya juga dengan ‘gagah’ membuat tanda salib lalu berdoa, seperti biasa.
Tapi sore ini, saya merasa ada yang bertanya kepada saya tentang berdoa ini. Kapan ya saya terakhir kali ‘berdoa’? Saya merasa, bahwa lama-lama saya tidak lagi ‘berdoa’, tetapi sekedar berdoa. Membuat tanda salib sebelum tidur lalau berdoa, menjadi semacam rutinitas belaka. Mungkin nyaris sama, seperti kebiasaan saya selalu nyisir rambut setelah mandi, walaupun separo kepala saya sudah botak.
Dan malam ini menyisakan pertanyaan buat saya sendiri. Kapan ya terakhir kali saya BERDOA?
Mei 28, 2008
Siang itu, gak biasanya istri saya menelepon ke kantor. Saya sedang makan siang di ruang makan di kantor saat diberitahu bahwa ada telepon dari rumah. Semoga saja bukan berita buruk dari rumah.
Istri saya bercerita bahwa, tadi malam, ketika baru saja masuk rumah dari pergi doa Rosario, anak saya yang bungsu bertanya kepada ibunya.
“Kok kalau ada bapak di rumah malah kita nggak pergi Rosario ya bu?”
Pertanyaan itu yang diulang kepada saya. Degh … Saya tidak menjawabnya. Saya hanya bilang sedang makan dan berjanji untuk menelepon balik kalau sudah selesai makan.
Terus terang saya bingung menjawabnya. Apakah saya harus memberitahu bahwa saya memang benar-benar merasa ‘kosong dan hampa’ dan sedang tidak ingin berdoa? Biasanya saya selalu usahakan untuk bisa ikut doa Rosario, baik bulan Mei ataupun bulan Oktober. Setidaknya, ketika hari Sabtu dan Minggu ketika saya libur, saya usahakan untuk tidak absen datang. Hari-hari biasa memang tidak bisa diharap, karena saya sampai rumah sekitar pukul sembilan.
Saya sendiri juga tidak tahu, kenapa saya merasakan begitu. Apakah mungkin karena saya mulai melihat bahwa teman-teman saya banyak yang tidak lagi kelihatan ‘baik’ di mata saya? Mereka rajin berdoa di lingkungan, aktif setiap kegiatan, gak pernah absen Misa, suka membantu dana ke sana ke mari dst, tetapi ternyata pembantunya sendiri mengeluh karena gajinya tidak layak. Atau kelihatannya mempunyai kehidupan rohani yang baik, tetapi tiba-tiba suaminya menikah lagi (konon karena sang istri berselingkuh) dan sampai sekarang sang istri tetap menerima komuni?
Ah entahlah. Tidak seharusnya saya menghakimi orang lain tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya,
Saya menuju ke meja makan dengan berjuta pikiran. Pertanyaan dari anak saya meninggalkan perasaan tersekat di tenggorokan. Saya menyingkirkan makanan yang baru termakan 2 suap itu.
Desember 27, 2007
Tahun baru sudah kelihatan di sudut pekarangan. Menawarkan sejuta harap dan juga menyeret segudang masalah. Terbayang sudah beban yang harus dibawa selalu pada setiap langkah. Dan menggoreskan satu tanya.
Mampukah?
Saya termasuk orang yang sok ikut-ikutan bikin resolusi setiap tahun baru. Dan biasanya setelah tahun berganti, saya mendapati tidak satupun resolusi saya terpenuhi. Tidak satupun. Sama sekali tidak ada. Jadi apa gunanya membuat target setiap awal tahun kalau tidak pernah tercapai ya?
Ah …Pasti bukan salah targetnya. Yang salah adalah saya sendiri. Target saya mungkin terlalu tinggi dan tidak memperhitungkan potensi diri. Atau mungkin saya yang selalu menunda dari hari ke hari.
Jadi di awal tahun nanti, saya sudah memutuskan untuk tidak membuat resolusi untuk diri sendiri. Biarlah saya menjalani saja dan melihat hasilnya nanti.
Selamat menyambut Tahun Baru 2008.
Desember 9, 2007
Dalam undangan yang saya terima, jelas-jelas ditulis bahwa rapat akan dimulai pada pukul 10.00 tepat. Jadi ketika saya selesai mandi siang itu sekitar setengah sepuluh dan ternyata motor dipinjam tetangga, saya sudah mulai uring-uringan ~ walaupun sekedar dalam hati.
Bukannya keberatan motor dipinjam, tetapi waktunya yang tidak tepat. Jam 10.00 tepat motor datang dan saya langsung meluncur menuju tempat rapat. Karena belum pernah datang ke sana, saya sempat harus tanya-tanya dulu sebelum akhirnya sampai di sebuah rumah dengan teras yang cukup luas dan halaman yang rimbun dengan pepohonan. Teduh.
Saya menyalami tuan rumah dan beberapa undangan lain yang sudah datang. Jam 10:30. Hmm … Harusnya saya sudah terlambat. Tetapi kelihatannya rapat belum dimulai. Jadilah kami ngobrol sambil menunggu undangan lain datang.
Satu persatu tamn yang lain datang. Waktu berjalan. Dan akhirnya rapat (baru) dimulai ketika jarum jam menunjukkan jam 11:50. Huh !!!
Rapatnya sendiri sih berjalan dengan lancar. Pemimpin rapat juga kelihatan berusaha keras untuk memandu rapat agar tidak terlalu melenceng jauh dari topik yang diagendakan. Walaupun tak urung satu dua pembicaraan kadang-kadang menyimpang juga. Pukul 14:55 rapat akhirnya selesai.
Dilanjutkan makan siang bersama ~ (yang mungkin lebih tepat disebut makan sore bersama hihihi). Setelah makan, kami langsung menerapkan jurus SMP. Setelah Makan Pulang.
Sampai rumah jam 15:30 karena harus mengantar tumpangan yang memang tinggal satu komplek. Dan sambutan yang saya peroleh adalah : ” Rapat apaan aja sich? Jam segini baru pulang? Gak sekalian aja nginep !!!“
Saya kadang memang sering memikirkan mengenai kebiasaan ngaret ini. Padahal kalau bisa dimulai tepat waktu, harusnya tidak membuang 2 jam hanya untuk menunggu orang lain yang mungkin memang sedang ada halangan. Sepertinya bakal susah kalau mau minta ijin rapat lagi nih. Hehehehe
Desember 1, 2007
Besok saya berulang tahun. Yang ke-38. Kadang saya berpikir, apakah usia saya bertambah atau berkurang ya? Usianya bertambah, memang iya. Tetapi itu berarti mengurangi jatah hidup yang disediakan Tuhan untuk saya. Dan lagi-lagi … saya berpikir mengenai hidup yang singkat ini.
Beberapa teman yang saya anggap teman dekat, sudah menyelesaikan kontrak di dunia ini. Mati dalam usia yang masih (cukup) muda. Dan lalu terbersit pertanyaan. Rencana apa yang Tuhan siapkan buat mereka, sehingga mereka harus buru-buru hengkang dari dunia ini?
Ah … hidup ini memang singkat. Disadari atau tidak, tiba-tiba kita akan dihadapkan pada kereta kematian. Pada saat kita (mungkin) baru memulai bersiap-siap.
November 5, 2007
Beberapa waktu yang lalu istri saya bilang, bahwa tidak terasa sudah hari Minggu lagi. Dia merasa bahwa waktu berjalan dengan cepat. Bercanda saya menanggapi bahwa kita tahu-tahu sudah tua dan tahu-tahu sudah mati. Hehehehe
Saya juga pernedapat bahwa semakin berambah usia saya, semakin terasa bahwa dunia berputar semakin cepat. Dan tiba-tiba saya menyadari, bahwa masih banyak banget yang belum (selesai) saya kerjakan. Saat sang kematian sendiri sudah bersiap-siap untuk menjemput.
Orang jawa bilang, urip iku sadermo mampir ngombe. Hidup iku sekedar mampir minum. Berapa lama sih orang mampir minum? Pasti cuma sebentar. Tidak mungkin orang akan mampir minum lalu numpang tidur. Atau mampir minum lalu sekalian mandi, cuci baju dan menyetrikanya sekalian. Tidak. Orang mampir minum, kalau sudah selesai minum pasti akan bilang terima kasih dan kemudian akan pamit. Kecuali kalau yang punya rumah menawarkan atau mempersilahkan kita untuk beristirahat barang sejenak di rumahnya. Begitulah.
Hidup itu singkat.
Bahkan Yesus sendiri hanya berusia 33 tahun. Dibandingkan usia saya yang sudah 38 tahun, berarti saya sudah menikmati extra 5 tahun dari kehidupan yang sempat dijalani Yesus di dunia ini.
Hanya saja saya sering berpikir, apa saja yang sudah saya kerjakan selama ini? Akankah saya sudah cukup berguna bagi keluarga saya? Akankah saya sudah cukup bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya? Jangankan menjadi garam atau terang dunia, saya masih sering berkutat menyenangkan diri sendiri dengan segala keegoisan yang saya miliki. Selalu menempatkan kepentingan dan kebutuhan saya sendiri di atas segalanya.
Lebih senang berkutat dengan pekerjaan daripada menikmati waktu berharga bersama keluarga di rumah. Masih sibuk berhitung untung rugi ketika ada niat untuk menengok orang tua di kampung. Masih dengan serakah menerima tawaran untuk menduduki beberapa posisi di organisasi padahal jarang memberikan kontribusi berarti.
Ah. Hidup itu singkat. Semoga saya masih sempat mengisinya dengan hal-hal berguna dalam waktu yang singkat ini.
Oktober 12, 2007
Aku menemukan tahu mengenai kata Sapere Aude ini dari bukunya Romo Jost Kokoh Prihatanto Pr. yang berjudul Mimbar Altar dan Pasar. Seruan yang berarti Beranilah Berpikir Sendiri! ini menggema keras di dataran Eropa pada abad ke 18. Semboyan yang sebenarnya dikutip dari penyair Horatius di masa Romawi ini hendak menggariskan mentalitas zaman yang berlomba menyatakan rasio sebagai cahaya yang menepis segala kegelapan ilusi.
Melalui media ini, saya juga ingin belajar untuk berani berpikir. Dan mencoba juga untuk belajar menuliskannya di sini. Masih mengutip dari buku yang sama.
“Kata-kata itu menguap tapi tulisan abadi.”