Beberapa waktu yang lalu istri saya bilang, bahwa tidak terasa sudah hari Minggu lagi. Dia merasa bahwa waktu berjalan dengan cepat. Bercanda saya menanggapi bahwa kita tahu-tahu sudah tua dan tahu-tahu sudah mati. Hehehehe
Saya juga pernedapat bahwa semakin berambah usia saya, semakin terasa bahwa dunia berputar semakin cepat. Dan tiba-tiba saya menyadari, bahwa masih banyak banget yang belum (selesai) saya kerjakan. Saat sang kematian sendiri sudah bersiap-siap untuk menjemput.
Orang jawa bilang, urip iku sadermo mampir ngombe. Hidup iku sekedar mampir minum. Berapa lama sih orang mampir minum? Pasti cuma sebentar. Tidak mungkin orang akan mampir minum lalu numpang tidur. Atau mampir minum lalu sekalian mandi, cuci baju dan menyetrikanya sekalian. Tidak. Orang mampir minum, kalau sudah selesai minum pasti akan bilang terima kasih dan kemudian akan pamit. Kecuali kalau yang punya rumah menawarkan atau mempersilahkan kita untuk beristirahat barang sejenak di rumahnya. Begitulah.
Hidup itu singkat.
Bahkan Yesus sendiri hanya berusia 33 tahun. Dibandingkan usia saya yang sudah 38 tahun, berarti saya sudah menikmati extra 5 tahun dari kehidupan yang sempat dijalani Yesus di dunia ini.
Hanya saja saya sering berpikir, apa saja yang sudah saya kerjakan selama ini? Akankah saya sudah cukup berguna bagi keluarga saya? Akankah saya sudah cukup bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya? Jangankan menjadi garam atau terang dunia, saya masih sering berkutat menyenangkan diri sendiri dengan segala keegoisan yang saya miliki. Selalu menempatkan kepentingan dan kebutuhan saya sendiri di atas segalanya.
Lebih senang berkutat dengan pekerjaan daripada menikmati waktu berharga bersama keluarga di rumah. Masih sibuk berhitung untung rugi ketika ada niat untuk menengok orang tua di kampung. Masih dengan serakah menerima tawaran untuk menduduki beberapa posisi di organisasi padahal jarang memberikan kontribusi berarti.
Ah. Hidup itu singkat. Semoga saya masih sempat mengisinya dengan hal-hal berguna dalam waktu yang singkat ini.
1 Komentar
Desember 10, 2007 pukul 2:09 pm
Amien!
Betul, Pak. Singkatnya waktu yang kita miliki rasanya tidak sebanding dengan banyaknya kewajiban hidup dan banyaknya bekal yang harus kita kumpulkan untuk perjalanan selanjutnya. Niatnya mampir ngombe, eh tau-taunya sibuk minum sampai kekenyangan…ketinggalan kereta deh