Siang itu, gak biasanya istri saya menelepon ke kantor. Saya sedang makan siang di ruang makan di kantor saat diberitahu bahwa ada telepon dari rumah. Semoga saja bukan berita buruk dari rumah.
Istri saya bercerita bahwa, tadi malam, ketika baru saja masuk rumah dari pergi doa Rosario, anak saya yang bungsu bertanya kepada ibunya.
“Kok kalau ada bapak di rumah malah kita nggak pergi Rosario ya bu?”
Pertanyaan itu yang diulang kepada saya. Degh … Saya tidak menjawabnya. Saya hanya bilang sedang makan dan berjanji untuk menelepon balik kalau sudah selesai makan.
Terus terang saya bingung menjawabnya. Apakah saya harus memberitahu bahwa saya memang benar-benar merasa ‘kosong dan hampa’ dan sedang tidak ingin berdoa? Biasanya saya selalu usahakan untuk bisa ikut doa Rosario, baik bulan Mei ataupun bulan Oktober. Setidaknya, ketika hari Sabtu dan Minggu ketika saya libur, saya usahakan untuk tidak absen datang. Hari-hari biasa memang tidak bisa diharap, karena saya sampai rumah sekitar pukul sembilan.
Saya sendiri juga tidak tahu, kenapa saya merasakan begitu. Apakah mungkin karena saya mulai melihat bahwa teman-teman saya banyak yang tidak lagi kelihatan ‘baik’ di mata saya? Mereka rajin berdoa di lingkungan, aktif setiap kegiatan, gak pernah absen Misa, suka membantu dana ke sana ke mari dst, tetapi ternyata pembantunya sendiri mengeluh karena gajinya tidak layak. Atau kelihatannya mempunyai kehidupan rohani yang baik, tetapi tiba-tiba suaminya menikah lagi (konon karena sang istri berselingkuh) dan sampai sekarang sang istri tetap menerima komuni?
Ah entahlah. Tidak seharusnya saya menghakimi orang lain tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya,
Saya menuju ke meja makan dengan berjuta pikiran. Pertanyaan dari anak saya meninggalkan perasaan tersekat di tenggorokan. Saya menyingkirkan makanan yang baru termakan 2 suap itu.